Dulu Disukai Anak-Anak, Kini Digandrungi Mahasiswa, ABG dan Emak-Emak

Minggu, 08 Juli 2018 - 11:28
JAKARTA - Permen gulali punya warna khas orange dan hijau yang menggoda. Bentuknya juga bisa dibuat sesuai selera dengan rasa yang manis khas. Sayangnya makanan yang biasa dijajakan keliling itu kini sudah sulit didapatkan. Masyarakat, khususnya anak-anak sekarang lebih mengenal permen lolipop dibandingkan permen tradisional itu. Meski begitu permen yang terbuat dari bahan baku gula pasir dipanaskan itu masih ada meski jarang. Salah satu penjual yang masih bertahan adalah Pak Tatang. Pria 70 tahun ini mengaku sudah 50 tahun berjualan permen gulali. Ia biasa berdagang keliling Jakarta, saat Minggu dan ada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur. "Saya jualan udah lama, dari 1968. Ya dagang ini terus belum pernah ganti-ganti. Dagangnya ya keliling Jakarta, kadang kalau ada acara-acara di mal gitu suka ikut juga tapi kalau sekarang dagang keliling aja," ujar Tatang pada Minggu (8/7/2018), di Jalan Pemuda, Pulo Gadung, Jakarta Timur. gulalli Menurutnya, meskipun untungnya tidak seberapa, namun berkat berjualan permen gulali ini, pria yang memiliki delapan anak ini mampu menghidupi keluarganya di kampung dan sekolah. Keahliannya membuat permen gulali dengan berbagai model karena belajar dari ayahnya yang juga penjual permen gulali. "Bapak (saya) juga jualan ini. Jadi ya emang udah warisan aja gitu. Saya dulu mikir mau cari duit, mau kerja apa ya, terus akhirnya saya coba jualan ini. Sampai sekarang (jualan)," tambahnya. Cara membuatnya dari dulu sampai sekarang tidak ada bedanya. Yang beda justru pembelinya. Dulu kebanyakan pembeli anak-anak sekolah, meskipun ada orang dewasa. Tapi sekarang, justru mahasiswa atau ABG, juga emak-emak yang mungkin ingin bernostalgia. "Kalau sekarang jualan di sekolah, anak-anaknya ga boleh beli sama ibunya. Justru kalau saya dagangnya depan kampus, yang beli itu mahasiswanya banyak," seru Tatang. Beberapa anak yang ingin membeli permen gulali tersebut, memang sempat dilarang orang tuanya. Alasannya, takut permen tersebut membuat sakit gigi atau batuk. "Yang begini sudah biasa, mba lihat sendiri kan? Yah kayak gitu respon orangtua rata-rata," katanya. Tatang menjual permen gulali antara Rp2.000 - Rp5.000 saja. “Tergantung permintaan pembeli mau dibuatkan permen seharga berapa. Untuk ukuran standar, Rp 2000 - Rp3000 saja,.” katanya. (cw2)

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



Ads