Bulutangkis Indonesia Sumbang Empat Emas di Hari Terakhir

Sabtu, 13 Oktober 2018 - 19:14
JAKARTA - Atlet bulutangkis Indonesia menyumbangkan empat medali emas dari enam partai final tersisa dari cabang bulutangkis pari terakhir Asian Para Games 2018, Sabtu (13/10/2018). Keempat medali emas tersebut disumbang Dheva Anrimusthi (tunggal putra), Dheva/Hafizh Briliansyah Prawiranegara (ganda putra), Fredy Setiawan/Dwiyoko (ganda putra), dan Hary Susanto/Leani Ratri Oktila (ganda campuran). Bertanding di Istora Senayan Jakarta, Dheva yang turun di nomor tunggal putra klasifikasi SU 5 meraih medali emas setelah mengalahkan komoatriotnya, Suryo Nugroho, Dheva dua gim langsung, 22-20 dan 21-13. Belum puas menyumbang satu medali emas, Dheva kembali menambah pundi-pundi emas untuk kontingen Indonesia di nomor ganda putra klasifikasi SU 5. Dheva yang kali ini berpasangan dengan Hafizh kembali bisa mengalahkan sesama pelatnas NPC Suryo/Oddie Kurnia Dwi Listiant Putra untuk menyumbang emas kedua bagi Indonesia. Dheva/Hafizh menang dua gim langsung atas Suryo/Oddie, 21-9 dan 21-9. Kemenangan mudah itu diraih Dheva/Hafizh karena mengaku sudah mengenal gaya permainan Suryo/Oddie. "Kamu sudah sering bertemu di latihan. Kami suka kalah dan menang. Kami juga sering melakukan rotasi. Di mana dari kami kerap bertukar pasangan," kata Hafizh, usai oertandingan. Indonesia kembali bisa menambah medali emas untuk yang ketiga kalinya lewat pasangan Hary/Leani di babak final ganda campuran klasifikasi SL 3/SU 5. Medali emas diraih Hary/Leani dengan mengalahkan wakil Thailand Siripongow Teamarrom/Nipada Seangsupa dua gim langsung, 21-7 dan 21-10. Sukses Hary/Leani kemudian diikuti pasangan Fredy/Dwiyoko di nomor ganda putra klasifikasi SL 3-4 yang kembali meraih medali emas usai mengalahkan pasangan Korea Selatan Sun Soo Jeon/Dong Jae Joo juga dua gim langsung, 22-20 dan 22-20. Medali emas itu seolah membayar lunas kegagalan Fredy yang sebelumnya turun di tunggal putra klasifikasi SL 4. Ia harus puas meraih perak setelah dikalahkan pebulutangkis India, Tarun dalam pertarungan tiga gim, 21-10, 13-21, dan 19-21. "Sebenarnya saya sering bertemu dengan Tarun. Bahkan pada Asia Para Games di Incheon saya juga bertemu di final. Faktor penyesuaian angin yang menjadi masalah. Terus saya terlalu buru-buru pada game kedua akhirnya tak terkontrol," ujar Fredy, usai pertandingan. Kegagalan yang sama juga dialami Ukun Rukaendi. Tampil sebagai unggulan tunggal putra klasifikasi SL 3, Ukun gagal mengulang sukses meraih emas di Asian Para Games 2014 Incheon setelah menyerah 19-21, 21-15, dan 14-21 dari wakil India, Pramod Bhagat dan puas dengan medali perak. "Dia adalah lawan yang tanggung meski usianya sudah tidak muda lagi (48 tahun). Itulah mengapa saya harus melawannya hingga satu jam 30 menit. Apalagi dukungan penonton di sini sangat luar biasa, belum pernah saya merasakan suasana seperti ini sepanjang hidup saya," ungkap Pramod. (junius/b)

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



Ads