Sisihkan Sebagian

Kamis, 12 September 2019 - 06:42
Oleh Harmoko SERING kita dengar ungkapan yang menyebutkan bahwa dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, bukan untuk memenuhi keserakahan manusia. Bahkan, Mahatma Gandhi lewat kata mutiara yang mendunia mengatakan : *Bumi ini cukup untuk tujuh generasi, namun tidak akan pernah cukup untuk tujuh orang serakah.* Ini dapat dimaknai bahwa keserakahan dapat merusak segalanya. Merusak tatanan kehidupan bermasyarakat, yang tidak saja merugikan diri sendiri, lingkungan sekitarnya. Juga perekonomian bangsa dan negara. Arti kata serakah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki; loba; tamak; rakus. Berati tak ada kepuasan dalam dirinya. Ingin selalu lebih segalanya dari orang lain, baik soal harta benda, kepemilikan pangkat dan jabatan serta status sosial lainnya. Agama apa pun mengajarkan pemeluknya menjauhkan diri dari sikap tamak dan serakah. Bahkan, agama sangat membenci sikap serakah. Keserakahan merupakan perilaku hina dalam agama. Keberadaannya bukan saja dibenci penduduk bumi, juga dibenci penduduk langit. Mengapa? Sikap serakah mendatangkan beragam penyakit, setidaknya penyakit hati yang berakibat buruk kepada lingkungan sosial. Penyakit dimaksud seperti sifat iri dan dengki, takabur, sombong, kesewenang- wenangan yang berujung kepada kian menyuburkan praktik gratifikasi, manipulasi dan korupsi. Para ahli menelaah orang tamak atau serakah lazimnya memiliki sejumlah ciri – ciri, di antaranya sbb: *Pertama*, tidak mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan. *Kedua, *merasa tidak cukup padahal telah banyak mendapatkan nikmat, *Ketiga*, ingin mempunyai sesuatu yang dipunyai orang lain; *Keempat*, kikir atau tidak mau bersedekah kepada orang yang lebih butuh *Kelima*, tidak menghargai pemberian orang lain apabila tidak sesuai dengan keinginannya *Keenam*, semua kegiatannya selalu berorientasi kepada materi, *Ketujuh*, kurang memiliki kepedulian sosial. Sikap – sikap tersebut adalah cermin sifat mementingkan diri sendiri, tak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Padahal manusia adalah makhluk individu dan juga sosial.Tidak ada satu pun manusia yang dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Dalam era kekinian, menghadapi begitu banyak persaingan, perekonomian yang belum total membaik, dibutuhkan sikap peduli untuk saling berbagi. Saling menyantuni satu sama lain. Bukan saja orang kaya harus menyisihkan sebagian hartanya untuk mereka yang membutuhkan. Bahkan juga menyisihkan kemampuan yang dimiliki untuk kemajuan masyarakat sekitar. Seperti networking, akses jaringan pasar dan permodalan dari mereka yang pengusaha besar kepada pengusaha kecil dan menengah. Intinya mereka yang lebih mampu harus memberi sebagian kemampuannya kepada yang belum mampu. Apa pun bentuk kemampuan yang dimiliki dan yang layak diberikan, harus diikhlaskan demi pemerataan atau kebersamaan. Salah satu proklamator negara, Bung Hatta sejak awal kemederkaan sudah memikirkan bagimana melindungi mereka yang lemah dalam kemampuan ekonomi. Bagaimana upaya menciptakan keadilan dan kemakmuran bersama sebagai upaya memperkecil kesenjangan. Itulah sebabnya perekenomian negeri kita perlu dibangun berdasarkan asas kekeluargaan, yang kemudian kenal dengan nama koperasi. Persoalannya kemudian menjadi pertanyaan apakah koperasi era kini? Seolah-olah “mati suri”, sementara akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi , satu di antaranya adalah tererosinya sikap peduli bagi sementara kalangan. Di sisi lain, upaya menumpuk kekayaan dengan beragam cara, meskipun melanggar etika dan norma, masih saja dilakukan oleh sementara kalangan yang memang memiliki kemampuan itu. Masih banyak kasus korupsi terjadi , lebih – lebih yang dilakukan oleh pejabat publik yang berkolusi dengan para pengusaha, menjadi satu indikasi yang perlu diantisipasi bersama. Mari kita bangun kebersamaan berbagi! Menyisihkan sebagian “kemampuan” untuk mereka yang membutuhkan demi menjadikannya gerakan moral. Kita tidak dilarang untuk kaya. Tetapi, selain kaya harta benda, juga “kaya hati”. Kaya hati adalah kaya jiwanya. Seseorang merasa cukup atas rezeki yang diperoleh. Tidak berharap tambahan, tanpa kebutuhan. Tidak terus menuntut, apalagi dengan cara melanggar etika dan norma. Itulah sejatinya sikap tidak serakah. Filosofi Jawa mengajarkan “*Sapa serakah , ora berkah*” – siapa yang serakah tidak akan mendapatkan keberkahan. Tidak akan mendatangkan kenyamanan, ketenangan dan kedamaian hidup. Hanya satu yang dibolehkan serakah menurut agama, yakni “*serakah menuntut ilmu*” (*).

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



Ads