Korupsi = Serakah 

Sabtu, 11 Januari 2020 - 06:35

SERAKAH, sebutan bagi orang yang tak pernah puas dengan apa yang telah dimiliki. Sifat ini agaknya pas disematkan kepada penjahat berdasi, koruptor. Sudah memiliki harta melimpah, masih juga meraup kekayaan lewat jalan tak halal.

Penjahat jalanan dan koruptor, sama-sama mencari uang dengan cara tak halal. Bedanya, sebagian besar penjahat jalanan kepepet merampas harta orang lain demi bertahan hidup, demi dapur ngebul. Sedangkan koruptor melakukan kejahatan lantaran ingin menumpuk kekayaan, padahal sudah tajir. Sebutan ‘serakah’ cocok disematkan ke penjahat model seperti ini.

Ditangkapnya seorang petinggi lembaga penyelenggara pemilu, membuat publik mencari tahu berapa banyak harta kekayaan para koruptor. Wow, ternyata harta oknum itu mencapai Rp12,8 miliar. Seorang bupati yang belum lama ini ditangkap KPK, kekayaannya lebih fantastis, Rp60,4 miliar. Tapi masih juga mau masuk ke pusaran korupsi.

Itulah manusia, tak pernah puas. Punya rumah ukuran 100 meter, kepingin lebih luas. Sudah punya rumah 500 meter, kepingin punya rumah satu lagi, villa, kebun. Punya mobil mewah, masih ingin mengoleksi mobil lainnya. Begitu seterusnya. 

Bukan bermaksud menyebut mereka-mereka itu serakah. Mungkin saja mereka ‘hanya’ terpeleset lantaran mendapat bisikan setan. Tapi ujung-ujungnya, ya tamak juga karena sudah kaya tapi tidak malu meraup uang dari hasil kejahatan. Tak pernah bersyukur, tak pernah menengok ke bawah.

“Orang serakah tak akan merasakan lezat dan manisnya kenikmatan. Dia bagai orang makan yang tak pernah merasakan kenyang dan nikmat,” kata ulama kondang Aa’ Gym. 

Perut hanya sejengkal, masih terus menyumpal makanan. Baru kesakitan bila kekenyangan, muntah, terpuruk atau tertimpa musibah. Percayalah, serakah, tamak, rakus, pasti akan membawa petaka. (Ird@)

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



Ads