Gerakan Menanam Pohon

Selasa, 14 Januari 2020 - 06:05

BANJIR serta longsor yang menerjang beberapa provinsi di Indonesia hingga banyak menelan korban jiwa, seakan membangunkan masyarakat dari ‘tidur’, dan menggungah kesadaran akan pentingnya keseimbangan alam. Tidak bisa dinafikkan, manusia punya kontribusi besar terjadinya bencana alam. 

Banjir dan longsor terjadi dipicu oleh rusaknya hubungan timbal balik dan tatanan kesatuan antara mahluk hidup dengan alam.  Banjir bandang yang melanda Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah dan wilayah lainnya tak lepas dari rusaknya ekosistem. 

Sejumlah elemen masyarakat belakangan ini gencar melakukan gerakan penghijauan, menanam pohon baik di perbukitan maupun di tengah kota. Mengambil momen Hari Gerakan Sejuta Pohon Dunia, pada 10 Januari lalu jajaran Polri dan TNI, pemerintah daerah dan elemen lainnya melakukan penghijauan.

Di kawasan Cikeas, Bogor, Panglima TNI dan Kapolri memimpin kegiatan penghijauan. Sedangkan di Jakarta, semua polres juga menggelar kegiatan menanam pohon. Begitu pula di Jawa Barat, pemda dan elemen masyarakat setempat menanam pohon di perbukitan kawasan Bandung. 

Kerusakan ekosistem memang jadi biang keladi terjadinya bencana alam. Sebagai catatan, luas hutan Indonesia saat ini tercacat sekitar 124 hektar. Namun, Global Forest Resources Assessment (FRA) mencatat setiap tahun Indonesia kehilangan 640.000 hektar hutan sejak 2010.  

Penyebabnya, alih fungsi lahan menjadi kawasan industri, areal persawahan berubah menjadi hutan beton, hutan alam berubah menjadi hutan industri, rencana tata ruang wilayah (RTRW) tanpa memperhatikan lingkungan, kurangnya ruang terbuka hijau (RTH) dan banyak penyebab lainnya. 

Contohnya, di kawasan hulu Puncak, Bogor, sekitar 445 hektar hutan lindung sudah beralih fungsi menjadi hutan produksi, area pertanian, kawasan permukiman termasuk menjamurnya vila-vila tak berizin. Daya dukung lingkungan di kawasan Puncak sebagai wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung, kian menyusut. Kondisi ini diperparah dengan menyusutnya ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan hilir. Di Jakarta saja, dari 30 persen RTH baru dicapai 14,9 persen.

Guna mengembalikan keseimbangan alam, reboisasi harus menjadi program prioritas nasional, dan diimbangi dengan perluasan RTH di wilayah hilir. Tahun 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengalokasikan dana Rp3,5 triliun untuk reboisasi. Tetapi hasilnya belum terlihat. Selain itu perlu gerakan masif penghijauan secara simultan, dan bukan sekedar gerakan parsial menanam pohon mengambil momen peristiwa yang tengah menjadi sorotan publik. **

 

 

Tags

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



Ads