Teror, dari Hantu Payudara hingga Begal Bokong

Rabu, 15 Januari 2020 - 06:20

TEROR mental yang menjurus kepada pelecehan seksual belakangan merebak. Korbannya, ibu- ibu rumah tangga, lebih khusus lagi wanita yang sedang jalan sendirian di tempat sepi. Teror kadang dilakukan pula di tempat umum tanpa rasa malu.

Sebut saja pelaku teror “hantu payudara”, pelaku teror yang dengan sengaja memperlihatkan atau mengeluarkan kemaluan di depan wanita. Belum sirna kedua teror tersebut, kini mencuat lagi aksi pelecehan seksual yang dilakukan seorang pria dengan meremas bokong wanita.  

Sudah beberapa ibu rumah tangga menjadi korban. Saat berjalan sendirian tiba – tiba seseorang lelaki menggunakan sepeda motor meremas bokong , lalu kabur.  Begal bokong, istilah yang diberikan kepada pelaku, hingga kini diduga masih gentayangan. Lokasi kejadian dialami ibu rumah tangga belakangan ini di kawasan Pancoran Mas, Depok.

Belum jelas siapa pelaku begal bokong yang muncul tiba - tiba. Yang pasti, aksi begal bokong ini sudah meresahkan masyarakat, dalam sebulan ini setidaknya 5 wanita sudah menjadi korban.

Meski kasus ini belum dilaporkan kepada pihak kepolisian, tetapi kami meyakini polisi sudah mengantisipasi untuk segera meringkus pelakunya.

Pelecehan seksual yang belakangan marak mulai dari meremas payudara sering disebut “hantu payudara atau hantu kacak”, mengeluarkan alat kemaluan dan dan yang terakhir “ begal bokong”  tak hanya meresahkan, juga membuat trauma. Tak heran jika disebut teror mental.

Kita berprasangka, pelecehan seksual ini bukan teror yang sengaja ditebar oleh orang tertentu untuk mencipatkan kesesahan. Mengacu kepada kasus yang telah terungkap di sejumlah daerah, pelaku melakukan aksinya karena terangsang setelah menonton video porno atau karena semata memenuhi hasrat pribadinya akibat rangsangan.

Jika perbuatan tersebut dilakukan berulang berarti sebuah kelainan karena adanya dorongan fantasi seks dalam dirinya. Bisa disebut ekshibisionisme atau penyimpangan seksual ( sexual deviation) yang ditandai dengan perilaku memperlihatkan kemaluan kepada orang lain untuk berfantasi.

Ada juga penyimpangan seksual yang disebut froteurisme , kepuasan seksual yang didapatkan dengan menyentuh atau meraba bagian payudara, paha dan bokong orang tanpa bermaksud melakukan perbuatan yang lebih intim lagi. Jadi sebatas pelampiasan khayalah seksual untuk mendapatkan kepuasan.

Sekalipun ini sebuah penyakit tidak lantas mendapat toleransi dalam proses hukum kepada para pelaku. Lebih – lebih pelaku yang hanya sebatas berfantasi melampiaskan hasratnya tanpa latar belakang kelainan.

Ke depan bagaimana kita mencegah agar penyimpangan seksual tidak semakin marak. Selain sanksi hukum, perlu kiranya masyarakat memberikan sanksi sosial secara masif untuk menciptakan efek jera. (*).

 

Tags

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



Ads